Friday, June 14, 2013

Model Pembelajaran Problem Centered Learning (PCL)

2.1.1        Pengertian PCL
Konsep jenis-jenis pembelajaran memiliki akar di dalam Teori Howard Gardner (Kurniawan, 2008: 19) bahwa, “Mengenai Intelegensi ganda yang menantang para pendidik untuk memperluas konsep mereka mengeni kemampuan siswa dan bagaimana mereka akan terangsang dalam mengembangkan kemampuannya”.
Menurut Dunn (Kurniawan, 2008: 19) mengemukakan bahwa,
Mengidentifikasi lima kategori jenis atau gaya pembelajaran, yaitu reaksi pada lingkungan ruangan kelas, emosionalitas yang dimilki anak, sosiologis (hubungan dengan masyarakat), pelajaran yang disukai, karakteristik psikologis, dan menghadapi analisis global.

Memperhatikan lima kategori tersebut bisa dilihat pada Problem Centered Learning (PCL). Pembelajaran yang menerapkan PCL merupakan pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan partisipasi dalam belajar dengan cara memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar yang potensial. Menurut Jakubowski (Kurniawan, 2008: 19) bahwa, “PCL melibatkan siswa dalam akivitas-aktivitas yang potensial untuk menstimulasi siswa dalam berpikir dan membuat pengertian konsep matematika dengan cara mereka sendiri”. PCL ini awalnya dikembangkan pada tahun 1986 disekolah dasar dan pada saat itu pendekatan ini disebut dengan Problem Centered Mathematics atau Prblem Centered Classroom, kemudian pada awal tahun 90-an Wheatley mengembangkan pendekatan ini di sekolah menengah dan disebut PCL.
Untuk menciptakan suatu kelas yang efektif, guru harus mendesain pengalaman yang memungkinkan para siswa dapat mencapai tujuan yang sudah direncanakan dan harus mengantarkan siswa sehingga siswa dapat belajar dari pengalaman tersebut. Pengalaman ini harus ditemukan pada saat proses di mana para siswa mengembangkan pemahaman matematika. Para siswa mengembangkan pemahaman matematika ketika mereka diminta untuk memunculkan pengetahuan baru dengan cara mempertimbangkan, menciptakan dan berargumen tentang matematika.
Para siswa harus mengalami permasalahan yang memerlukan penggunaan pengetahuan yang fleksibel bukan sekedar pekerjaan matematika yang rutin saja. Pertanyaan yang diarahkan dan dipusatkan harus memberikan tantangan bagi para siswa untuk menggunakan berbagai strategi. Para siswa harus meneliti permasalahan, menentukan informasi apa yang diperlukan untukk memecahkannya, dan merancang solusi. Untuk hal itu sudah seharusnya guru melibatkan semua siswa sehingga siswa ada kemungkinan terjadinya pengembangan-pengembanagan yang boleh jadi akan mendorong para siswa mengerahkan seluruh kemampuannya sehingga pembelajaran menjadi optimal. Guru di sini berperan sebagai pelatih yang memudahkan penyelidikan siswa terhadap masaah itu atau dengan kata lain guru berperan sebagai fasilitator.
Terkait peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran, maka soal yang akan diberikan kepada siswa harus lebih dari soal rutin sehingga peran guru di sini akan benar-benar optimal. Hal ini tidak biasa dipandang sebagai suatu pengayaan pengajaran dikelas, tetapi lebih menjadi suatu tujuan yang penting. Pemecahan masalah harus dipandang sebagai suatu prosedur yang penting untuk menuju kepada pemahaman matematika. Melibatkan pra siswa di dalam pembelajaran berpusat pada masalah akan memberikan kemungkinan bagi para siswa akan mengembangkan kemampuan itu untuk itu menyelesaikan dan memilih bermacam-macam strategi yang cocok untuk merancang solusi. PCL menciptakan suatu model dengan situasi di mana siswa biasa menjadi pemikir dan sibuk dengan penyelidikan untuk menciptakan solusi.
2.1.2        Aktivitas dalam PCL
Menurut Von (Kurniawan, 2008: 20) bahwa, “Inspirasi teoritis untuk sebuah lingkungan PCL adalah konstruktivisme”. Jakubowski (Kurniawan, 2008: 20) berpendapat bahwa, “PCL merupakan pendekatan pembelajaran yang memfokuskan kemampuan siswa untuk mengkonstruksi pengertian yang dimilikinya terhadap konsep-konsep matematika”. Selain itu Whetley (Kurniawan, 2008: 20) berpendapat bahwa, “Tujuan dari PCL adalah mengkonstruksi pengetahuan siswa yaitu siswa dapat menjelaskan dan memberi alasan, mempunyai kekonsistenan, dapat merefleksikan dan menanamkan ke dalam pengetahuan lain”.
Menurut Wheatley (Kurniawan, 2008: 21) menyatakan bahwa, PCL melibatkan tiga komponen, yaitu sebagai berikut.
1.    Mengejakan tugas. Pertama-tama guru menyiapkan kelas, kemudian menugakan siswa untuk mengerjakan tugas. Guru harus memilih tugas-tugas yang menantang, tetapi para siswa tidak ditunjukkan prosedur-prosedur khusus untuk memecahakan soal-soal yang menantang. Berikut ini salah satu contoh soal yang dapat menantang :
Sebuah katak berada di dasar sebuah galian tanah sedalam 3 m. setiap hari katak itu melompat ke atas setinggi 90 cm dan malamnya turun 60 cm. dalam berapa hari katak tersebut dapat keluar dari lubang galian tersebut?
2.    Kegiatan kelompok. Guru mengkondisikan siswa untuk melanjutkan kegiatan kelompok. Langkah kedua ini guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan kemampuan siswa, di sini siswa diharuskan melakukan kolaborasi dalam aktivitas kelompok untuk menemukan pemecahan dari masalah dari hasil pemikiran meraka sendiri.
3.    Berbagi (sharing). Pada langkah terakhir ini, semua siswa disatukan menjadi diskusi kelas. Seluruh anggota dari setiap kelompok bersama-sama berbagi strategi jalan keluar atau solusi yang berbeda. Di sini peran guru hanya berperan sebagai fasilitator dan setiap uasaha dibuat untuk tidak bersifat menilai tetapi hanya bersifat mendorong.

Dengan demikian, inti dari PCL adalah upaya siswa dapat melakukan negosiasi dengan dirinya sendiri, dengan temannya, ataupun dengan gurunya. Negosiasi ini berarti adanya interaksi/komunikasi, baik itu dengan diri sendiri, dengan temannya, maupun dengan gurunya dalam memecahkan suatu masalah. Seperti halnya seluruh teori ilmiah bernegosiasi antara para ahli. Siswa-siswa juga dapat memperoleh makna-makna matematik.
            Pada saat siswa mengerjakan tugas mereka berarti sedang melakukan negosiasi dengan dirinya sendiri. Lain halnya dengan kegiatan diskusi. Pada saat kegiatan diskusi guru harus berperan sebagai fasilitator agar kegiatan ini berlangsung denga baik. Selain itu, siswa diberi keleluasan untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri agar diperoleh solusi berdasarkan pemikiran sendiri.
            Dilakukannya kerja kelompok dan diskusi kelas (sharing) dalam PCL berarti siswa dapat memperdalam permasalahannya suatu konsep. Menurut Turmudi (Kholis, 2007: 9) bahwa, “Bekerja kelompok dapat mengurangi salah konsep yang diperbuat siswa”. Kesalahan konsep ini dapat membuat siswa mengalami kesalahan dalam merencanakan solusi dari masalah (soal) yang diberikan dan juga dapat mengakibatkan jawabannya tidak sesuai dengan yang harapkan. Selain itu menurut Marsigit, dkk. (Nuryati, 2000: 11) bahwa, “Kerja kelompok juga dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan menemukan pendekatan yang berbeda, melatih siswa menerima pendapat orang lain”.
            PCL didesain oleh Wheatley untuk memfasilitasi keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar dengan mendorong mereka.
1.      Menemukan cara-cara mereka sendiri dalam memecahkan masalah,
2.      Saling bertukar pandangan yang tidak hanya memperkuat jawaban-jawaban yang benar saja,
3.      Untuk berpikir kreatif yang tidak hanya sekedar menghitung alat tulis.
Keunggulan PCL
Sasaran dari PCL adalah penyelidikan dan pemecahan masalah. Jakubowski (Kurniawan, 2008: 22) membuat beberapa ciri khusus PCL sebagai aktivitas pembelajaran yang menekankan belajar melalui penelitian atau pemecahan masalah di dalam kelas yang memiliki beberapa keunggulan, adalah sebagai berikut.
1.    PCL memfokuskan aktivitas pembelajaran pada masalah-masalah yang menarik bagi siswa selalu berusaha memecahkan masalah tersebut.
2.    PCL memfokuskan pada pentingnya komunikasi dalam pembelajaran kaena semua aktivitas dilakukan oleh siswa-siswa yang bekerja dalam kelompok secara kooperatif dan kolaboratif.
3.    PCL ini memfokuskan pada proses-proses penyelidikan dan penalaran dalam pemecahan masalah dan bukan memfokuskan pada mendapatkan hasil-hasil eksperimen yang benar atau jawaban yang benar terhadap pertanyaan masalah semata.
4.    PCL mengembangakan kepercayaan diri siswa dalam menggunakan atau menerapkan matematika ketika mereka menghadapi situasi-siuasi kehidupan sehari-hari.

 Mekanisme PCL
Menurut Wheatley (Kurniawan, 2008: 23) bahwa, “Mekanisme PCL menerapakan tiga metode belajar yaitu, cooperative learning, collaborative dan tutorial learning karena PCL yang dikembangkan merupakan pembelajaran yang mengutamakan aktivitas pemecahan masalah matemaika”. PCL ini meliputi mengerjakan tugas, belajar kelompok kecil, dan sharing yang mendiskusikan agar pembelajaran yang dilakukan guru didalam kelas lebih ditekankan terhadap proses mengkonstruksi konsep oleh siswa berdasarkan pengertiannya sendiri.
            Cooperatif Learning adalah kegiatan siswa dikumpulkan dalam satu kelompok. Collaboratif Learning adalah kegiatan siswa saling memberi ide dalam kelompok untuk satu tujuan yang sama. Selanjutnya siswa meengkonstruksinya menjadi pengetahuan baru, jadi konsep baru tidak diberitahukan. Sedangkan Tutorial Learning berarti siswa bekerjasama dengan orang lain untuk belajar, Collaboratif Learning berarti peran serta individu dalam belajar dan Tutorial Learning berarti saling mengajarkan.