Wednesday, May 29, 2013

Kemampuan Pemahaman Konsep Matematik

Pemahaman berasal dari kata dasar paham yang berarti mengerti benar. Seseorang dikatakan paham terhadap suatu hal apabila orang tersebut mengerti benar dan mampu menjelaskan hal yang dipahaminya. Pemahaman konsep (Concept Understanding) biasanya disingkat dengan CU merupakan salah satu aspek dari tiga aspek penelitian matematik. Penilaian pada aspek pemahaman konsep, bertujuan mengetahui sejauh mana siswa mampu menerima dan memahami konsep dasar matematik yang telah diterima.

Ada beberapa ciri khusus yang membedakan antara soal pemahaman konsep dengan soal untuk aspek penilaian yang lain. Menurut Sa’dijah (2007: 1) ada tujuh ciri soal pemahaman konsep. Ciri-ciri tersebut antara lain:
1.      menyatakan ulang sebuah konsep;
2.      mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya);
3.      memberi contoh dan non-contoh dari konsep;
4.      menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis;
5.      mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep;
6.      menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu;
7.      mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.
Selanjutnya, peningkatan kemampuan pemahaman matematik dapat diukur dengan mengadopsi penskoran menurut Holistic Scoring Rubrics dari Utari (dalam Susilawati, 2008: 63) seperti tertera pada tabel berikut.
Tabel 2.1
Holistic Scoring Rubrics
Pemahaman Konsep Matematika

Tingkat
Pemahaman
Kriteria
skor
Tidak Paham
Jawaban hanya mengulang pertanyaan
0
Miskonsepsi
Jawaban menunjukan salah paham yang berdasar tentang konsep yang dipelajari
1
Moskonsepsi
Sebagian
Jawaban memberikan sebagian informasi yang benar tapi menunjukan adanya kesalahan konsep dalam menjelaskan
2
Paham Sebagian
Jawaban benar dan mengandung paling sedikit satu konsep ilmiah serta tidak mengandung satu kesalahan konsep
3
Paham Seluruhnya
Jawaban benar dan mengandung seluruh konsep ilmiah.
4

Pemahaman konsep membantu siswa untuk mengingat. Hal tersebut dikarenakan ide-ide matematik yang dipelajari melalui pemahaman saling terhubung. Mereka dapat lebih mudah mengingat dan menggunakan, serta dapat menyusun kembali ketika mereka lupa. Siswa mengingat kembali apa yang mereka pahami dan mencoba untuk mempresentasikannya ke dalam pemikirannya sendiri.
Indikator yang harus dimiliki siswa untuk kemampuan pemahaman adalah mengenal, mengingat, menerapkan, algoritma, menduga, mengaitkan, menghitung, dan memberikan contoh. Hal ini sejalan dengan pendapat Mastie dan Jhonson (dalam Janah, 2007: 17) bahwa, “Pemahaman terjadi ketika orang mampu mengenali, menjelaskan dan menginterprestasikan suatu masalah”.
Anak sudah memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini bahkan sebelum usia sekolah. Anak usia pra-sekolah sudah mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak sedikitnya benda, dapat mengenali perubahan dalam banyaknya benda yang disebabkan oleh adanya benda yang ditambah atau dikurangi dari sekelompok benda dan mengurut besar kecilnya sejumlah benda sesuai dengan banyaknya benda tersebut. Butterworth (2009: 1) mengasumsikan bahwa,“Setiap anak mempunyai modul angka (number module) yang terberi sejak lahir secara biologis yang terletak di otak”. Jadi secara umum, tampaknya semua anak mempunyai kapasitas yang terberi sejak lahir yang kurang lebih sama dalam mengenal angka yang sifatnya biologis, walaupun  tentu saja pasti ada variasi individual. Jika faktor biologis, dalam hal ini otak, mempunyai andil yang cukup besar dalam mendasari pemahaman angka dan matematika. Otak pun memberikan impresi bahwa “seharusnya” semua anak mempunyai kemampuan dan pemahaman yang sama dalam bidang ini, lalu mengapa ada anak yang memiliki kemampuan matematika yang sangat tinggi sedangkan sebagian lainnya harus berjuang keras untuk dapat memahaminya.
Berpijak pada adanya perbedaan individual dalam pemahaman dan kemampuan matematika, cukup menarik apabila disimak bahwa ternyata perbedaan  kemampuan dan pemahaman matematik juga terjadi diantara dua atau lebih budaya.

Kembali lagi pada penjelasan sebelumnya mengenai faktor biologis yang mempengaruhi kemampuan angka dan matematik pada anak, ‘seharusnya’ apabila faktor biologis sebagai penentu tunggal dari kemampuan pemahaman angka dan matematik pada anak, maka tidak akan ada perbedaan lintas-budaya dalam kemampuan ini, karena semua anak diciptakan kurang lebih sama dari manapun ia berasal. Jadi faktor yang mempengaruhi masalah pemahaman matematik tidak sepenuhnya pada aspek biologis saja tapi juga dalam perkembangannya dipengaruhi proses belajar dan pembelajaran yang dijalani oleh individu itu sendiri.