Tuesday, February 26, 2013

Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)



Good, Grouws, & Ebmeire (1983) dan Good & Grouws (1979) (Gitaniasari, 2008: 15) mendefinisikan Missouri Mathematics Project (MMP) sebagai berikut:

The Missouri Mathematics Project or MMP is a program designed to help teacher effectively use practices that had been identified from earlier correlational research to be characteristic ot teachers whose students made outstanding gains in achievement.




Sedangkan Convey (Krismanto, 2003) menyatakan bahwa model pembelajaran MMP yang secara empiris melalui penelitian model pembelajaran terstruktur yang terdiri atas 5 tahap kegiatan, yaitu review, pengembangan, latihan terkontrol, seatwork dan penugasan/PR.

Berdasarkan pernyataan di atas, secara garis besar MMP didefinisikan sebagai suatu program yang didesain untuk membantu guru dalam hal efektivitas penggunaan latihan-latihan agar siswa mencapai peningkatan yang luar biasa. Latihan-latihan yang dimaksud adalah lembar tugas proyek. Lembar tugas proyek ini merupakan sederetan soal atau perintah untuk mengembangkan suatu idea atau konsep sistematis. Hal ini diharapkan agar kemampuan siswa dalam penalaran meningkat.

Model pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan dan diterapkan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yaitu rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya, tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut berhasil, dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.

Missouri Mathematics Project merupakan salah satu model pembelajaran terstruktur seperti halnya Stuktur Pengajaran Matematika. Tahapan kegiatan dalam Struktup Pengajaran Matematika antara lain:

1.      Pendahuluan: apersepsi, revisi, motivasi, introduksi

2.      Pembelajaran konsep atau prinsip

3.      Penerapan: pelatihan penggunaan konsep atau prinsip, pengembangan skill dan evaluasi

4.      Penutup: penyusunan rangkuman dan penugasan

Good dan Grouws, pada tahun 1979 (Sunawan, 2008: 19) telah mengkaji suatu bentuk pengajaran matematika di Missouri. Termasuk dalam kajiannya adalah pengaruh dari tingkah laku guru terhadap capaian hasil belajar siswanya. Mereka menyatakan bahwa terdapat enam tingkah laku yang efektif, yaitu :

a.       Mengelola kelas scara klasikal

b.      Menyajikan informasi dengan sangat jelas

c.       Memfokuskan kelas terhadap tugas-tugas

d.      Menciptakan lingkungan belajar yang sesuai

e.       Mengharapkan pencapaian yang tinggi dari siswa-siswanya

f.       Menggunakan pengalaman mengajar untuk memperkecil gangguan dalam pembelajaran.

Model Missouri Mathematics Project (MMP) meliputi lima langkah/ tahapan kegiatan. Krismanto (2003) dan Widdiharto (2004) mengungkapkan kelima langkah tersebut adalah review, pengembangan, kerja kooperatif, seat work (kerja mandiri), dan penugasan/PR.

·         Langkah 1 Review

Langkah pertama ini dilakukan selama ± 10 menit. Review meliputi:

g.      Meninjau ulang pembelajaran sebelumnya terutama yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari pada pembelajaran yang sedang dilakukan.

h.      Membahas pekerjaan rumah.

i.        Membangkitkan motivasi siswa.

·         Langkah 2 Pengembangan

Pada langkah kedua ini, guru sebaiknya mengalokasikan 50% waktu pelajaran. Pengembangan meliputi:

a.       Penyajian ide baru dan perluasan konsep matematis terdahulu.

b.      Penjelasan.

c.       Diskusi interaktif antara guru dan siswa.

d.      Demontrasi dengan contoh konkret yang bersifat piktoral dan simbolik.

Selain hal-hal di atas, guru juga sebaiknya menginformasikan tujuan pembelajaran kepada siswa sebagai langkah antisipasi mengenai sasaran pembelajaran. Pada langkah ini sebaiknya terjadi diskusi kelas.

Untuk mencapai hal tersebut, guru dapat menyajikan materi dengan metode tanya jawab dan diberikan suatu permasalahan matematis. Pengembangan ini akan meningkatkan kemampuan siswa dalam penalaran.

·         Langkah 3 kerja Kooperatif

Langkah ketiga ini dalam beberapa sumber disebutkan juga latihan terkontrol atau latihan dengan bimbingan guru. Sesuai dengan penamaannya, pada langkah ini siswa diminta untuk mengerjakan latihan dengan diawasi guru.

Pengawasan ini diminta berguna untuk mengawasi jika terjadi miskonsepsi pada pembelajaran. Latihan yang diberikan kepada siswa dikerjakan dalam kelompok (belajar kooperatif). Pada langkah ini dapat meningkatkan kemampuan penalaran siswa. Waktu yang dialokasikan untuk kerja kooperatif ini ± 20 menit.



·         Langkah 4 Seat Work (Kerja Mandiri)

Dalam langkah ini siswa diminta untuk bekerja sendiri sebagai latihan sehinggan kemampuan penalaran siswa dapat meningkat. Seat Work juga dimaksudkan sebagai sarana siswa untuk mengaplikasikan pemahaman yang diperoleh dari langkah pengembangan dan kerja kooperatif. Alokasi waktu yang diberikan dalam langkah ini ± 15 menit.



·         Langkah 5 Penugasan/PR

Pada langkah ini guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah (PR). PR ini selanjutnya akan menjadi bahan review pada pembelajaran selanjutnya.

Dalam model pembelajaran MMP siswa diberikan lembar tugas proyek yang berisi sederetan soal ataupun perintah untuk mengembangkan suatu ide atau konsep matematika. Lembar tugas proyek ini dapat diselesaikan secara kelompok (pada langkah latihan terkontrol) secara individu (pada langkah seatwork) bahkan bersama-sama seluruh siswa dalam kelas (pada latihan pengembangan).



Faulkner et al. (Sunawan, 2008: 19) menyatakan bahwa kajian yang dilakukan oleh Good dan Grouws ditujukan untuk membuat matematika lebih bermakna sehingga meningkatkan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Kajian tersebut kemudian dikenal dengan Missouri Mathematics Project (MMP). Kajian MMP dilakukan atas dasar kajian-kajian sebelumnya yang menyatakan bahwa perbandingan antara waktu yang dibutuhkan untuk memaknai dan membangun makna dari materi ajar harus lebih banyak daripada waktu untuk latihan-latihan soal. Kajian Good dan Grouws dengan menerapkan MMP dalam pembelajaran ternyata mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Pada dasarnya MMP merupakan suatu pengelolaan kelas yang klasikal. MMP diperoleh dari hasil penelitian Good, Grouws, dan Ebmeimer yang membandingkan antara strategi mengajar guru yang hasil belajar matematikanya selalu tinggi dengan yang rendah.

Missouri Mathematics Project (MMP) memiliki penekanan pada belajar kooperatif dan kemandirian siswa. Dengan penggunaan model pembelajaran MMP memungkinkan untuk terjadi interaksi tingkat tinggi. Karena dalam pembelajarannya terjadi berbagai interaksi antar guru dan siswa, siswa dan siswa, bahkan dengan media dan sumber belajar.

Karakteristik dari model pembelajatan MMP ini adalah adanya lembar tugas proyek. Muschula (Rosani, 2004:26) menyatakan bahwa tugas proyek ini diharapkan:

a.       Memungkinkan siswa menjadi kreatif dalam mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan tang berbeda-beda.

b.      Menghendaki siswa menggunakan, mengintegrasikan, menerapkan dalam mentransfer berbagai informasi dan keterangan yang berbeda-beda ke dalam proyek.

c.       Menghendaki siswa terlibat dalam prosedur-prosedur seperti investigasi dan inkuiri.

d.      Memberikan kesempatan pada siswa untuk merumuskan pertanyaan mereka sendiri dan kemudian mencoba menjawabnya.

e.       Memberikan siswa masalah-masalah sebagai cara alternatif mendemonstrasikan pembelajaran dan kompetensi siswa.

f.       Memberi kesempatan untuk berinteraksi secara positif dan bekerja sama dengan teman di kelasnya.

g.      Memberikan forum bagi siswa untuk berbagai pembelajaran dan kepandaian mereka dengan siswa lain.

Ditinjau dari langkah-langkah yang termuat dalam model pembelajaran MMP, Widdiharto (2004) menyebutkan beberapa kelebihan dari model MMP ini. Kelebihannya antara lain:

a.       Penggunaan waktu yang diatur dengan relatif ketat sehingga banyak materi yang dapat tersampaikan pada siswa.

b.      Banyak latihan sehinggan siswa terampil menyelesaikan berbagai macam soal.

Kekurangan dari Model Missouri Mathematics Project (MMP), yaitu:

a.       Apabila ada salah satu siswa yang tidak paham dan tidak bisa mengikuti pembelajaran, maka bagi siswa yang bersangkutan, tahapan dari Model Missouri Mathematics Project (MMP) tidak bisa dilaksanakan.

b.      Waktu yang digunakan relatif ketat, tetapi apabila ada siswa yang belum paham terhadap suatu konsep dan ada siswa yang pada pertemuan sebelumnya tidak masuk, maka harus ditinggalkan begitu saja atau dilaksanakan tahapan-tahapan Model Missouri Mathematics Project (MMP).